Mengenai berita yang diangkat mengenai Christian Sugiono yang menjadi mualaf, mengundang orang-orang Indonesia yang merasa gatel ingin mengeluarkan opininya untuk disampaikan kepada Christian Sugiono tapi efeknya justru mengarah ke hal-hal yang bersifat SARA (Suku, Agama dan Ras ) yaitu tepatnya mengenai agama.
Hal ini memang masih dianggap sangat sekali sensitif di negeri yang memiliki keanekaragaman ini. Yang dikhawatirkan dari kacamata nasionalis adalah masyarakat kita masih banyak memiliki pemikiran yang belum dewasa alias masih kanak-kanak. Mungkin orang yang berkomentar di internet mengenai berita selebriti satu ini, masih tergolong berumur kisaran 15-19 tahun, jadi masih sangat minim sekali penguasaan emosinya. Kenapa saya perkirakan umur segitu karena dari semua yang di lontarkan dalam tulisannya itu mencerminkan pemikiran dari anak seumur itu. Mungkin saja ada yang sudah berumur lebih, namun tetap saja saya sebut sebagai ABG, umur boleh lebih tapi otaknya masih anak kecil. Tulisan mereka seperti memberikan sindiran kepada artis itu yang mengatasnamakan sang pencipta yang ini yang itu dan bla-bla yang intinya tidak terima kalau manusia lain merubah keyakinan (padahal itu urusan manusia itu sendiri dengan sang pencipta, bukan manusia dengan manusia yg merasa sudah pernah tahu seluk beluk akhirat). Tidak hanya salah satu pihak namun dua-duanya dan semuanya.
Dan juga mereka semua yang berkomentar tidak sehat ilmunya masih sedikit semua karena yang jalan diotak adalah emosinya. Saya sarankan debat saja diatas gunung sana kemudian taruhannya nyawa (bukan saling bunuh namun diseleksi alam) kalo masih debat di muka publik (internet) rasanya kok ada maksud tersendiri atau maksud tertentu agar dibaca oleh manusia lainnya. ckckckckckc……. Baca entri selengkapnya »
Komentar Terakhir