Perempuan berkalung sorban dikritik dosen

4 02 2009

Film “PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN” telah sukses diputar di bioskop-bioskop, kini mengundang salah satu dosen negeri di Jakarta yang telah menonton film tersebut mengkritik dialog-dialog yang menurutnya merusak citra Islam yang sebenernya.

Dari dialog yang tidak disetujui oleh dosen yang berjilbab itu mengenai :

            • Dialog seorang anak perempuan yang dilarang naik kuda oleh ayahnya yang seorang kyai.
            • Perempuan tidak boleh keluar rumah walaupun itu untuk menuntut ilmu sekalipun.
            • Melakukan pembakaran buku-buku seperti Karl Marx yang dilakukan oleh santri di pondok pesantren.

Kemudian setelah mengkritisi beberapa potong yang menurut dosen tersebut sangat banyak, kemudian dosen tersebut menghimbau agar film ini tidak untuk ditayangkan karena terlalu banyak yang tidak pantas untuk ditonton.

Setelah melihat di televisi mengenai pemberitaan ini, kemudian muncullah pengertian untuk menerima film tersebut dengan cara sudut pandang yang lain.

Cukup dengan beberapa kalimat yang ditujukan kepada dosen tersebut.

Kejadian yang dikritiknya itu, mungkin tidak terjadi atau pernah terjadi di masyarakat kita  ?

Kalo mungkin pernah terjadi, berarti film tersebut tidak masalah atau tidak perlu dikritik. Hal itu berarti gambaran yang ada dimasyarakat kita, bukannya film itu tidak sesuai dengan ajaran Islam.

BENAR TIDAK ?

Kemudian, pertanyaan berikutnya yang mendasar yaitu mengenai perfilman.

Dosen tersebut menginginkan film yang baik-baik saja sesuai dengan ajaran Islam yang sebenarnya dan tidak menjelekkan citra kyai maupun mengatasnamakan Al Quran dan Hadist yang akhirnya memperburuk citra Islam yang sebenarnya.

Sebenarnya citra Islam dari segi ajarannya sudah baik, namun dalam sebuah film jika semua yang disajikan hanya yang baik-baik saja penonton tidak akan tahu perilaku mana yang buruk dari seorang manusia atau mungkin pernah terjadi dilakukan oleh manusia.

Kalo film tersebut hanya menyajikan yang baik saja tanpa ada masalah yang dimunculkan, apa pantes disebut sebagai film yang bercerita untuk dipahami penontonnya. Yang pantes adalah disebut sebagai film dokumenter yang mengupas tentang ajaran Islam.

Pasti dosen tersebut akan setuju dengan jenis film ini.

BENER TIDAK ?

Orang yang sudah dewasa, bijak dalam berpikir ketika menonton sebuah film, apapun jenis filmnya akan mengerti mana yang baik untuk dilakukan dan mana tidak baik untuk dilakukan.

Silahkan ajarkan pada anak didik anda atau anak anda sendiri dengan ajaran-ajaran yang baik saja TANPA MEMBERITAHUKAN contoh ajaran yang buruk (baik lisan maupun tindakan).

Kira-kira anak didik anda atau anak anda sendiri akan tahu perilaku yang buruk itu seperti apa ?

Terima kasih sudah berbicara untuk kritis di televisi mengenai suatu hal (anda sebagai dosen telah berpartisipasi membangun negeri ini) namun pemikiran bijaksana juga dibutuhkan dari anda setelahnya. Kalau anda takut/trauma dengan keburukan yang ditampilkan dalam film tersebut berarti anda kemungkinan tidak akan bisa menerima jika hal itu terjadi di dunia nyata. Mungkin anda tidak mengira dan menerima kenyataan kalau kejadian itu mungkin pernah terjadi.

Silahkan jika anda ( pembaca blog ) yang memiliki pengalaman pribadi mengenai perilaku manusia yang tidak pantas untuk dicontoh agar dikemukakan di internet, biar semua perilaku buruk yang terjadi di Indonesia bisa terungkap dan bisa diminimalisir.

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: