Kiki Fatmala dan produser filmnya emosi ketika dikritik

11 03 2009

Kiki Fatmala memang sering berpenampilan seksi dan juga pernah mendapat julukan bom seks ketika tahun 90-an. Kiki sering membintangi film-film yang selalu menampilkan keseksian tubuhnya itu.

Ketika Kiki mulai bermain film “Pijat Atas Tekan Bawah“, Kiki juga berperan sebagai tante-tante yang menjadi klien tukang pijat plus. Saat Kiki mendapat kritikan pedas tentang citranya yang selalu menampilkan keseksian tubuhnya, Kiki emosi dengan berlagak tidak tahu maksud yang ditanyakan oleh orang media.

Maaf saya nggak ngerti dengan pertanyaan Anda dan saya nggak mau jawab pertanyaannya,” kata Kiki saat ditemui di galeri Cafe, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Selatan

Begitu juga dengan produser film, KK Dheeraj yang mendapat image sebagai produser yang sering membuat film komedi yang berbau seks, mendapat kritikan pedas yang kemudian emosi dengan alasan karena publik membutuhkan film-film yang menghibur sambil membanting microphone.

Tidak ada yang bisa menyuruh saya berhenti membuat film. Kalau mau kritik, silakan bikin film sendiri. Saya membuat film berdasarkan keinginan pasar yang memang butuh film-film menghibur,” kata KK Dheeraj.

Film “Pijat Atas Tekan Bawah” sudah menunjukkan kerugian yang banyak karena film tersebut bakal tidak laku dipasaran sehingga produser emosi ketika dikritik.

Sebenarnya film Indonesia ini masih belum bisa menghibur secara menyeluruh atau belum bisa menghibur publik dengan secara tulus akan tetapi terkesan seperti dipaksakan.

Gedung bioskop cenderung memaksakan untuk menyajikan film lokal lebih banyak daripada film luar. Publik yang menonton seakan-akan dipaksa untuk menonton film lokal yang belum tentu kualitasnya. Sedangkan produser seperti KK Dheeraj ini mungkin numpang pasar yang sedikit mulai terbentuk. Aji mumpung atau spekulasi yang digunakan agar filmnya laku untuk ditonton.

Penonton kebanyakan pasangan-pasangan yang berpacaran, jadi tradisi nonton bioskop untuk alasan mempererat hubungan saja.

Penonton akan bertambah jumlahnya jika film berkualitas dari luar negeri.

Bukannya tidak mencintai produk sendiri, tapi pembuat film hanya ingin duit kita saja sedangkan kita belum bisa mencintai produk tersebut.

Masih belum bisa membuat karya yang benar-benar berkualitas (masih menghitung anggaran). Totalitasnya semua komponen masih belum ada untuk mengejar kualitas film.

Karakter film tahun 90-an masih digunakan untuk tahun 2000-an ini.

Masih laku ?

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: