Sepatu yang dijadikan bukti bukan milik Ananda Mikola

31 03 2009

Sepatu yang dijadikan bukti oleh Agung Setiawan dibantah oleh terdakwa, Ananda Mikola karena bukti tersebut bukan milik Ananda Mikola. Sidang yang agendanya mendengarkan kesaksian dari pihak korban dan sebagai saksi ini berakhir pada pukul 17.00 WIB.

Ananda Mikola yang membantah sebagai pemilik sepatu  yang diajukan oleh Agung Setiawan sebagai bukti itu diutarakannya seusai sidang.

Tuhan maha melihat, kita bisa melihat kebohongan Agung, saya tidak pernah melakukan tendangan, dan sepatu yang digunakan sebagai barang bukti itu bukan sepatu saya. Dia itu pembohong, untuk menutupi semua kebohongannya,” tegas Ananda.

Ananda mengaku dirinya tidak berbicara seperti yang diutarakan oleh saksi korban dengan perkataan-perkataan yang kasar.

Ngapain saya ngatain orang seperti itu, saya juga seorang atlet, dan saya juga orangnya sportif kalau salah ya saya bilang salah,”tambahnya.

Begitu juga dengan pernyataan kuasa hukum Ananda Mikola, O.C. Kaligis yang masih ingin mempertanyakan barang bukti lainnya seperti sendok serta sperma. Perilaku seks yang menyimpang pada Agung Setiawan ketika di telanjangi hingga pagi hari menimbulkan pertanyaan dibenak O.C. Kaligis kenapa Agung tidak berusaha melarikan diri.  Jadi di sinyalir ada kebohongan-kebohongan yang dilakukan oleh Agung Setiawan tentang kronologis kejadian tersebut dan kebohongan lainnya itu mengenai pengakuannya sebagai insinyur padahal sarjana ekonomi. Tidak sampai disitu saja, O.C. Kaligis akan menyelidiki sudah lulus tidaknya kuliahnya Agung.

Dia itu seneng di antara lelaki telanjang, makanya dia nggak berusaha lari, terus kebohongannya lagi dia mengaku insinyur saat kerja sama dengan Marcella, padahal dia seorang sarjana ekonomi, belum tahu lulus tidaknya masih kami periksa,” tegasnya.

Sidang yang hanya mendengarkan kesaksian dari saksi korban sudah menimbulkan pertanyaan besar tentang siapa sebenarnya Agung Setiawan dan benar tidaknya bantahan Ananda Mikola tersebut ditunggu pada sidang berikutnya.

Kejanggalan dalam persidangan tersebut memang harus diteliti oleh publik sebagai pemerhati, kalau tidak bisa menemukan kejanggalan yaa silahkan untuk mencarinya dengan segala cara, termasuk membaca-baca di internet.

Kalaupun perkiraan kita tidak sesuai dengan keputusan pengadilan juga tidak masalah. Keputusan dari pengadilan itu saja juga masih dari manusia yang mungkin pemikirannya juga sama dengan kita yaitu kemungkinan untuk salah masih mungkin bisa terjadi.

Tapi bedanya itu, keputusan dari hakim tetap harus dihormati sedangkan hasil perkiraan publik yaa tidak usah dihormati karena semuanya itu hanya sebuah opini bukan sebuah keputusan.

Jangan takut dengan opini publik yang muncul beragam karena negara ini menganut demokrasi yang memperbolehkan perang opini yang sehat dan cara yang sehat pula (bukan manipulasi data atau jalan pintas) level opini tetap opini yang digunakan sebagai wacana saja.

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: